05.49

Ketua KSU Harapan Bersama Mahmud

Ketua KSU Harapan Bersama, Mahmud yang diringkus polisi pada Senin (4/6) di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, mengaku hanya membawa kabur uang nasabah sebesar Rp30 juta. Uang itu telah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama tiga bulan buron dan bersembunyi dari kejaran petugas kepolisian. Mahmud sempat bersembunyi di Kota Makassar, Palu, dan Toli-Toli.

Kasat Reskrim Polresta Parepare AKP Aska Mappe mengatakan, sesuai data yang didapatkan penyidik, jumlah nasabah yang menanamkan modal di koperasi tersebut, baik dalam bentuk uang tunai maupun barang sebanyak 1.800 nasabah dengan total investasi mencapai Rp11 miliar.

Namun, ungkap Aska,Mahmud mengaku tidak tahu di mana dana belasan miliar yang berhasil diraup KSU Harapan Bersama dari 1.800 nasabah itu. Sementara sejumlah aset milik koperasi yang sempat beroperasi selama empat bulan tersebut pun tidak jelas.Sebab, aset rumah toko (ruko), mobil, dan motor, belum lunas dibayar. Dari hasil temuan penyidik, hampir semua aset yang dimiliki koperasi di Kilometer 7, Kecamatan Soreang tersebut belum menjadi aset resmi KSU Harapan Bersama sehingga tidak bisa dilakukan penyitaan.

“Semua aset koperasi itu semuanya dicicil dan hingga kini belum lunas. Untuk asetaset lain, belum bisa kami ketahui karena tersangka masih bungkam. Tapi dalam waktu akan kami konfrontir,” kata Aska kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin. Dia mengungkapkan, tersangka Mahmud mengaku aset ruko di Pasar Leppangang, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang,baru dibayar sekitar Rp115 juta dari harga ruko Rp200 juta lebih.

“Sedangkan empat unit mobil yang saat ini dikuasai oleh perusahaan leasing (perusahaan pembiayaan) karena tersangka hanya mampu membayar down payment (DP),” ujar dia. Sementara itu, berkas penyidikan tiga tersangka yang telah lebih dulu berhasil diamankan yakni Apri, Erni dan Zaenal, rencananya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Parepare pada Kamis (7/6).

Satu tersangka, Sekretaris KSU Harapan Bersama Syamsul hingga kini masih dalam pengejaran. Para tersangka dikenakan Pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan. Mereka juga dijerat dengan undang-undang perbankan. Kadis Koperasi dan Kabid Koperasi Parepare yang berperan dalam mengeluarkan izin pengoperasian koperasi tersebut masih bertatus sebagai saksi,”kata Aska.

0 komentar: